Terbongkar! Bukan The Fed, Ini Biang Kerok Rupiah Ambrol

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah sepanjang pekan lalu perkasa dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS). Terima kasih untuk The Federal Reserve (The Fed) yang memutuskan menahan suku bunganya.

Pada hari Jumat kemarin (4/11/2023), mata uang Garuda menguat tajam hanya dalam hitungan sekitar 30 menit dimana pada pembukaan rupiah masih di sekitar Rp15.820/US$, kemudian pada 09.28 WIB menguat nyaris 100 rupiah.

Tim ekonom dan riset PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. menilai rupiah bertahan lebih baik terhadap dolar AS dibandingkan dengan banyak mata uang Asia lainnya, di tengah “penurunan yang semakin tajam”, namun mata uang ini benar-benar melemah pada bulan Oktober ketika mata uang tersebut melemah.

“Kenaikan dolar sebenarnya melambat. Spread bid-ask di pasar FX forward menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah benar-benar meningkat pada bulan Oktober – yang menimbulkan pertanyaan: mengapa?,” papar Senior Ekonom Barra Kukuh Mamia dalam catatannya, dikutip Selasa (6/11/2023).

Dia dan tim menegaskan intervensi valuta asing BI, yang mungkin menutupi volatilitas mata uang pada bulan September, menjadi salah satu kunci. Namun korelasi erat antara tekanan pada mata uang asing dan obligasi pemerintah Indonesia (SBN) meningkat, tepatnya sebelum konflik Israel-Palestina) mungkin mengarah pada penyebab lain, yaitu penerbitan obligasi pemerintah.

Ternyata, Kementerian Keuangan Indonesia berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 168 triliun pada kuartal IV-2023, yang jauh lebih besar dibandingkan obligasi yang biasanya diterbitkan pada akhir tahun ini.

“Kelebihan pasokan yang tidak terduga ini, yang terjadi di pasar global yang bergejolak, mungkin merupakan faktor penentu di balik buruknya kinerja rupiah dan keputusan BI untuk menaikkan Repo Rate 7 hari pada bulan Oktober,” ungkap Barra dan tim.

Baca Juga  Kinerja Moncer, Ini Alasan BRI Masuk Daftar Brand Finance Global 500

“Jika penilaian kami benar, maka pada dasarnya ada tiga opsi bagi pihak berwenang untuk menstabilkan Rupiah,” tambahnya.

Pertama, Kementerian Keuangan dapat mengurangi penerbitan SBN dan sebagai gantinya memobilisasi simpanan besarnya di BI, Rp 658 triliun per 23 September 2023 dan bank komersial sebesar Rp 314 triliun per 23 Agustus 2023.

Permasalahannya, kata Barra, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan tabungannya saja karena pemerintah harus melakukan refinancing terhadap sejumlah besar obligasi yang akan jatuh tempo senilai Rp 194,2 triliun plus US$ 2,2 miliar pada kuartal I-2024.

“Menguras tabungan hanya akan menyebabkan penerbitan jauh lebih besar pada kuartal berikutnya,” ungkapnya.

Opsi kedua tentunya adalah memangkas belanja, yang dapat mengurangi kebutuhan penerbitan SBN secara signifikan mengingat jumlah belanja yang masih harus dilakukan pada kuartal IV, sekitar Rp 1.093 triliun.

Tentu saja, menurut Barra, langkah ini dapat mengorbankan pertumbuhan dan terutama likuiditas bank yang sering kali bergantung pada lonjakan belanja pemerintah musiman di kuartal IV.

Tindakan terakhir adalah dengan terus menerbitkan obligasi (belanja pemerintah), tetapi menanggulanginya dengan meningkatkan jumlah tabungan sektor swasta yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga BI.

Hal ini mungkin merupakan tindakan yang lebih disukai di tengah El Nino dan menjelang pemilu mengingat dampak distribusinya. Tabungan menghilangkan daya beli masyarakat kelas atas, sementara belanja pemerintah (bantuan tunai atau intervensi harga beras) menggeser hal tersebut untuk menopang daya beli masyarakat kelas bawah.

“Namun perlu diingat bahwa tabungan sektor swasta sering kali terlambat dibandingkan dengan kenaikan suku bunga, sehingga dapat menyebabkan nilai tukar Rupiah tetap berada di bawah tekanan dalam waktu singkat (belanja pemerintah tidak diimbangi oleh tabungan swasta),” ungkapnya.

Baca Juga  Menilik Nasib Sektor Teknologi Saat Era Suku Bunga Masih Tinggi

“Oleh karena itu, BI mungkin memilih untuk menaikkan suku bunga karena alasan kehati-hatian dan oleh karena itu, kami memperkirakan BI akan menaikkan 7-DRR setidaknya sebesar 25 bps sebelum akhir tahun,” tambahnya.

Terakhir, mengingat belanja pemerintah yang masih kuat dan dampak yang lambat terhadap tabungan swasta, Barra mengungkapkan pihaknya cukup optimistis terhadap prospek pertumbuhan di kuartal mendatang, terlepas dari tantangan global.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Perkasa, Akhirnya Dolar Say Good Bye Rp 15.300

(haa/haa)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *