Laba Ambles 91,57%, Saham AMMN Salim Rontok 2 Hari Beruntun

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten pertambangan tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia milik Grup Salim yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terpantau kembali ambles pada perdagangan sesi I Rabu (1/11/2023), di mana sudah dua hari beruntun saham AMMN ambles.

Per pukul 10:00 WIB, saham AMMN ambles 2,31% ke posisi Rp 6.350/unit. Saham AMMN pada hari ini diperdagangkan di kisaran harga Rp 6.250 – Rp 6.500 per unit.

Sekitar satu jam setelah dibuka, saham AMMN sudah ditransaksikan sebanyak 3.339 kali dengan volume sebesar 17,14 juta lembar saham dan nilai transaksinya sudah mencapai Rp 108,91 miliar. Adapun kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 459,82 triliun.

Hingga pukul 10:00 WIB, di order bid atau beli, antrian beli pada harga Rp 6.350/unit, menjadi yang paling banyak pada sesi I hari ini, yakni mencapai 13.789 lot atau sekitar Rp 8,7 miliar.

Sedangkan di order offer atau jual, antrian jual di harga Rp 6.375/unit, menjadi yang paling banyak di sesi II, yakni mencapai 8.996 lot atau sekitar Rp 5,7 miliar.

Saham AMMN sudah terkoreksi parah selama dua hari beruntun. Selama dua hari, AMMN sudah ambrol 5,93%. Dalam sepekan terakhir, saham AMMN juga ambles 1,92%.

Meski begitu, dari harga IPO-nya, saham AMMN masih meroket 274,63%.

Berlanjutnya koreksi parah AMMN terjadi setelah perseroan merilis kinerja keuangannya pada kuartal III-2023. Investor sejatinya sudah mendengar rumor bahwa kinerja kuartal III-2023 AMMN cenderung melandai.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 62,67 juta (Rp 998,99 miliar) pada kuartal III-2023. Perolehan ini ambles 91,57% dari periode yang sama setahun sebelumnya sebesar US$ 744,09 juta (Rp11,86 triliun).

Baca Juga  Ini Bukti Nikel RI Gak Ada Lawan, Australia Hingga Prancis Nyerah

Tekanan laba AMMN terjadi seiring dengan merosotnya penjualan bersih perusahaan menjadi US$ 1,15 miliar dari yang setahun sebelumnya US$ 1,97 miliar. Segmen tembaga tahun ini turun menjadi US$ 697,07 juta dari yang setahun sebelumnya sebesar US$ 1,08 miliar.

Begitu pula pada penjualan emas menjadi US$ 453,68 juta dari yang sebelumnya sebesar US$ 893,72 juta. Maka demikian, penjualan bersih emiten tambang yang terafiliasi dengan Grup Salim ini menukik turun 41,79% menjadi US$ 1,15 miliar.

Dalam keterangan resminya, AMMN menjelaskan penyebab penurunan penjualan bersih adalah tertundanya perpanjangan izin ekspor dari 1 April hingga 23 Juli 2023. Setelah mendapatkan izin ekspor pada 24 Juli 2023, perusahaan mempercepat pengiriman konsentrat pada kuartal III/2023 untuk mengejar kehilangan penjualan.

Adapun konsentrat yang terjual pada periode ini termasuk persediaan konsentrat dari produksi pada kuartal sebelumnya. Sepanjang kuartal III tahun lalu hingga tahun ini, rata-rata harga jual bersih tembaga dan emas masing-masing meningkat sebesar 46% dan 19%.

Pada periode yang sama beban pokok penjualan Amman Mineral International tercatat menurun menjadi US$649,23 juta dari yang setahun sebelumnya sebesar US$856,35 juta. Beban operasional naik menjadi US$90,4 juta dan beban lain naik menjadi US$116,98 juta.

Adapun total belanja modal AMMAN pada Q3/2023 adalah sebesar US$480 juta, meningkat 119% dibandingkan Q3/2022.

Rinciannya, belanja modal terkait kebutuhan pembelian peralatan pertambangan, pembangunan dan peningkatan fasilitas pendukung untuk kegiatan penambangan bijih Fase 7 dan pengupasan batuan penutup Fase 8 (sustaining capex) sebesar US$110 juta; belanja modal smelter sebesar US$137 juta; perluasan pabrik konsentrator sebesar US$138 juta; dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (“PLTGU”) dan fasilitas LNG sebesar US$94 juta

Baca Juga  SVBI Meluncur 21 November, Laris Diborong Investor!

Hingga akhir tahun 2023, AMMN memperkirakan dapat memproduksi 610.000 metrik ton kering konsentrat. Target produksi ini didorong oleh bijih segar dengan kadar tinggi dari Fase 7 yang akan ditambang dan diproses.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sejak IPO, Saham Amman Mineral (AMMN) Sudah Meroket 88% Lebih

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *