Harga Minyak Turun, Tapi Tetap Volatil Gegara Hamas-Israel

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (11/10/2023) karena kekhawatiran konflik berkelanjutan Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas.

Hari ini harga minyak mentah WTI dibuka melemah tipis 0,01% di posisi US$85,96 per barel, sementara dengan minyak mentah brent dibuka menguat 0,08% ke posisi US$87,72 per barel.


Pada perdagangan Selasa (10/10/2023), minyak WTI ditutup terkoreksi 0,47% ke posisi US$85,97 per barel, begitu juga dengan harga minyak brent ditutup lemas 0,57% ke posisi US$87,65 per barel.

Harga minyak berakhir pada hari Selasa memantul dari posisi terendah meski tetap ditutup pada posisi melemah. Pergerakan harga minyak masih diselimuti kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan akibat pertempuran antara Israel dan kelompok Hamas, meskipun para pedagang tetap waspada.

“Saat ini, hal ini lebih seperti permainan pingpong yang penuh rasa takut, tidak takut dibandingkan perdagangan berdasarkan fundamental,” ucap Phil Flynn, analis di Price Futures Group.

Brent dan WTI telah melonjak lebih dari US$3,50 pada hari Senin karena bentrokan militer menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat menyebar ke luar Gaza.

“Ada sedikit aksi taking profit dari kenaikan tajam kemarin,” ucap John Kilduff, partner di Again Capital LLC.

Meskipun produksi minyak mentah Israel sangat sedikit, pasar khawatir jika konflik meningkat maka hal itu akan merugikan pasokan Timur Tengah dan memperburuk defisit yang diperkirakan akan terjadi hingga sisa tahun ini.

“Tidak ada pasokan minyak langsung yang terkena dampak konflik saat ini, jadi ini adalah situasi yang harus ditunggu dan dilihat,” menurut Kilduff.

Para pejabat AS menuding Iran terlibat dalam serangan Hamas terhadap Israel, namun bukti kredibel mengenai peran Republik Islam tersebut belum muncul.

Baca Juga  NPL KPR Lebih Tinggi Dibanding Era Pandemi, Ternyata karena Ini

“Selain itu, sejauh ini belum ada bukti bahwa Iran terlibat dalam serangan tersebut, sehingga memberikan sedikit alasan bagi pedagang minyak untuk mendorong harga lebih tinggi saat ini,” ucap Cincotta.

Vivek Dhar, analis energi di CBA, mengatakan terungkapnya bukti keterlibatan Iran akan mendorong harga lebih tinggi.

“Kami tetap percaya bahwa minyak Brent pada akhirnya akan stabil di kisaran US$90 hingga US$100 per barel pada Q4 2023,” ucap Dhar, ia menambahkan bahwa konflik Palestina-Israel meningkatkan risiko harga Brent berjangka berada di US$100 per barel atau lebih.

Sebagai tanda yang lebih positif bagi pasokan, Venezuela dan AS telah mencapai kemajuan dalam perundingan yang dapat memberikan keringanan sanksi kepada Caracas dengan mengizinkan setidaknya satu perusahaan minyak asing tambahan untuk mengambil minyak mentah Venezuela dalam kondisi tertentu.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rekor! Minyak Catat Kenaikan Tertinggi Sepanjang 2023

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *